Minggu, 06 Desember 2009

POLITIK DAN HUKUM BELUM MENYENTUH PARA SISWA


Sampai saat ini, beberapa surat kabar masih sibuk membahas tentang hukum dan politik. Diantaranya masih kasus seputar KPK dan skandal Bank Century, serta tentang disharmoni lembaga-lembaga politik dan Badan Penegak Hukum. Membahas kasus Bibit-Chandra pun sampai saat ini juga belum menemui titik terang. Lalu, bagaimana semua itu dimata remaja terlebih siswa?

Remaja memang perlu melek politik. Remaja perlu belajar dan sekaligus memahami berbagai persoalan yang sedang dihadapi bangsa dan negerinya. Akan tetapi, pendidikan politik yang perlu diaplikasikan ke dalam lembaga pendidikan bukanlah dalam bentuk propaganda politik praktis yang akan mengarah pada proses pembusukan intelektual, melainkan pendidikan politik yang sehat dan mencerahkan.


Seperti dikatakan oleh salah seorang tokoh pendidikan Jembrana, I Gede Laut Mertajaya, M.Sc., bahwa sejauh ini para siswa di Indonesia memang belum mendapatkan pendidikan politik yang memadai. “Siswa belumlah mendapatkan pendidikan politik yang memadai. Kita bisa lihat bagaimana mereka bingung ketika bersinggungan dengan masalah politik. Padahal sesungguhnya politik itu memiliki makna yang sangat luas. Sikap politik tidaklah sebatas keterlibatan sesorang dalam politik praktis, seperti dalam pesta demokrasi ( Pemilu ). Bukankah ini sebuah contoh bahwa pemahaman politik di dalm masyarakat sangatlah rendah. Maka kita harus mengubah pandangan itu sedini mungkin, yang mulai dari kalangan siswa,” demikian Gede Laut dalam sebuah wawancara dengan media ini.

Para siswa perlu diajak untuk memahami persoalan-persoalan kebangsaan melalui proses pembelajaran yang dialogis dan interaktif. Pendidikan politik juga tidak perlu dijadikan sebagai materi pelajaran tersendiri. Berhasil menanamkan nilai-nilai kearifan politik ke dalam ranah pemikiran siswa sudah merupakan sukses tersendiri bagi sebuah lembaga pendidikan.

Melalui penanaman nilai kearifan politik semacam itu diharapkan kelak siswa mampu menjadi pemain-pemain politik yang cerdas dan elegan sehingga tidak mudah melakukan tindakan-tindakan konyol yang bisa merugikan bangsa dan negara.

Dalam konteks demikian, dibutuhkan penanaman nilai-nilai kearifan dan pengertian politik secara benar melalui dunia pendidikan. Dalam pandangan awam, hancurnya tatanan politik di negeri ini merupakan imbas dari minimnya dunia pendidikan politik kita dalam menyentuh nilai-nilai kearifan politik.

Selama menuntut ilmu di bangku pendidikan, para siswa didik (nyaris) tak pernah mendapatkan pendidikan politik secara benar. Siswa belajar politik secara langsung di tengah-tengah kehidupan masyarakat yang sudah sarat dengan pembohongan serta ketidakjelasan politik. Imbasnya sudah bisa ditebak. Ketika terjun ke dalam ranah politik praktis, mereka menjadi mengabaikan nilai-nilai kejujuran, kearifan, dan kesantunan.

Sudah saatnya dunia pendidikan kita mengakomodasi berbagai persoalan yang langsung bersentuhan dengan hajat hidup orang banyak. Jangan sampai, dunia pendidikan berdiri di puncak kepura-puraan yang akan mengasingkan anak-anak masa depan negeri ini dari berbagai persoalan riil yang dihadapi bangsa dan negaranya. Dengan kata lain, nilai-nilai kearifan dan kesantunan politik perlu segera diaplikasikan ke dalam dunia pendidikan yang disajikan secara integratif ke dalam berbagai mata pelajaran yang relevan agar siswa memahami dan mampu memposisikan dirinya dikehidupan perpolitikan.

poetry

2 Comments:

Itik Bali said...

Siswa engga pernah dapat pendidikan politik praktis
hanya lewat pelajaran PKN
tapi apa itu disebut pendidikan politik?

Learning On Perspective said...

Kadang suka bingung kalo ngomongin masalah politik

Posting Komentar