Selasa, 16 Februari 2010

Stasiun Radio di Jembrana (Hidup Segan Mati Tak Mau)


Bisnis radio di Jembrana lagi lesu kalau tidak boleh dibilang mendekati bangkrut. Pengelola harus ngos-ngosan untuk mencukupi biaya operasional maupun gaji karyawan. Iklan sebagai penunjang utama hidup matinya media publik kian sulit diperoleh. Kalaupun ada pemasang, negoisasi harga menyentuh hingga batas terendah. Tak pelak, situasi ini membuat banyak radio di Jembrana hidup segan mati tak mau.

Menyambangi bagian barat Kota Negara, maka akan berjumpa dengan salah satu kantor siaran radio bernama Dirgantara FM. Berdiri sejak tahun 1977, stasiun radio ini merupakan yang tertua di Negara. Saat media hiburan dan informasi dari masyarakat masih banyak mengandalkan siaran radio, stasiun ini mengalami masa jaya. Fans maupun pemasang iklan kerap melengkapi kesibukan rutin stasiun di bilangan Jalan Udayana ini.

Tapi masa jaya itu tidak bertahan lama. Di tahun 2003, pendapatan melalui iklan mulai merosot. Manajer Radio Dirgantara, Munir menilai merosotnya pendapatan dari iklan itu sebagai imbas jumlah stasiun radio di Jembrana yang bertambah banyak. Selain dari sisi jumlah pemasang berkurang, harga iklan juga turun drastis. Menurut Munir, iklan yang dulunya Rp. 10 ribu per spot atau sekali siar kini hanya menjadi Rp. 3500. Apalagi untuk iklan lokal, harga iklannya turun sangat drastis.

“Kalau dulu kami bisa memilih iklan mana yang pantas tayang, sampai beberapa pemasang iklan terpaksa kami tolak. Kini, kami harus berjuang keras untuk mendapatkan iklan agar biaya operasional bisa berjalan lancar,” katanya.

Keluhan senada dilontarkan nyaris oleh semua pengelola stasiun radio di Kabupaten Jembrana. Sumber Harmoni di kalangan pemilik radio mengatakan, saat ini mereka sudah tidak bisa lagi berpikir soal keuntungan. “Jangankan keuntungan, bisa mencukupi biaya operasional dan gaji karyawan saja sudah syukur,” ujar salah seorang pengelola radio. Dengan kondisi itu, ia hanya tersenyum kecut saat ditanya apakah investasi stasiun itu sudah balik modal. “Jangan nanya itu, mas, terlalu jauh rasanya untuk balik modal,” ujarnya.

Sementara Gus Sade, pengelola GSM FM saat ditemui Harmoni tidak menampik jika pendapatan dari iklan menurun drastis. Ia mengungkapkan, saat ini terjadi pertarungan harga iklan yang luar biasa keras dari masing-masing pengelola radio. Bahkan pertarungan itu sudah mengarah kurang sehat karena harga iklan yang diterima tidak masuk akal. “Kayaknya yang penting dapat iklan, tidak peduli berapa pun harganya,” ujar pengelola radio FM pertama di Jembrana ini.

Sade menilai, persaingan iklan yang tidak sehat sebenarnya justru merugikan radio itu sendiri. Ia sendiri merasa beruntung karena memiliki langganan tetap dari pemasang iklan produk nasional. “Pemasang ini sudah langganan di kita sejak radio ini mulai siaran. Kami mungkin beruntung karena merupakan salah satu radio FM pertama di Jembrana,” jelasnya.

Selain GSM FM yang masih bisa bertahan dengan pelanggan iklannya, stasiun-stasiun radio lainnya mesti berjibaku dengan berbagai cara agar tetap bertahan. Ayub, salah seorang pegawai Radio Dirgantara FM mengatakan, agar bertahan pihaknya tidak hanya mengandalkan pemasukan dari iklan. Acara-acara di luar siaran seperti jumpa fans, jalan santai hingga menggelar konser musik menjadi program andalan untuk meraih pemasukan. “Acara-cara itu ditambah dengan pemasukan iklan ternyata bisa membuat stasiun radio ini tetap eksis,” jelas Ayub.

Untuk program siaran hiburan, radio ini lebih banyak memfokuskan pada menu siaran dangdut. “Banyak yang tidak menyangka kalau Dirgantara akan hidup selama ini. Dan kami optimis bahwa ini akan berlanjut sampai ke tahun-tahun berikutnya dengan program-program yang kami bisa berikan. Saya yakin radio tak akan mati. Walaupun radio menjamur, tetap saja ada orang yang mau mendirikan radio,” tambah Munir.

Inovasi dan kreativitas. Prinsip ini dipegang oleh pengelola Radio Swara Negara untuk menjaga eksistensinya di blantika penyiaran. Penanggungjawab Radio Swara Negara, Wisnu Swastika, mengungkapkan apa pun yang dilakukan oleh seluruh media harus berdasarkan dengan inovasi-inovasi yang cemerlang berlandaskan kreativitas. “Sebenarnya sama saja dengan media lain. Kalau mau eksis, ya, harus terus mempunyai program unggulan. Orang-orang di dalamnya juga harus kreatif dalam menjalankannya. Pendengar biar tidak jenuh,” paparnya.

Jika pengelola Radio Dirgantara dan Swara Negara FM masih optimis bisnis siarannya akan bertahan, tidak demikian halnya dengan pengelola STAR FM, Gede Kantika. Saat ditemui Harmoni ia mengakui ada persaingan tidak sehat dalam menjaring iklan. “Masing-masing radio menurunkan harga iklan sampai titik terendah. Ini kan tidak sehat namanya,” ujarnya. Ditanya apakah ia akan melanjutkan bisnis radio ini, Kantika menjawab akan lihat dulu kondisi ke depannya. “Sekarang kami sekedar bertahan saja agar tetap bisa siaran saja,” keluhnya.

poetry
Selengkapnya...

Kamis, 28 Januari 2010

Biaya Kebutuhan Remaja Makin Gila

Mari kita periksa apa saja isi tas dan saku para remaja yang akan jalan-jalan keluar rumah. Pertama, kita akan menemukan handphone, kemudian dompet, dan barang-barang elektronik lain seperti i-pod, PSP, atau bahkan netbook. Sungguh, semua barang itu adalah barang yang hanya bisa jika mau mengorek kantong yang tak sedikit.

Fasilitas-fasilitas itu sepertinya sudah menjadi kebutuhan utama yang wajib dimiliki. Kebutuhan yang nampaknya sudah tidak bisa lepas dari kehidupan remaja. Kita amati saja, rata-rata para remaja sudah mengantongi Hp di saku mereka. Tidak jarang pula, Hp yang mereka miliki adalah jenis yang memiliki berbagai macam fitur seperti kamera, Mp3 player, dan koneksi internet. Tidaklah dapat dipungkiri, Hp dengan berbagai fitur didalamnya tersebut tidak murah. Untuk Hp semacam itu, paling tidak berharga di atas Rp. 750 ribu. Sementara, rata-rata remaja yang notabene masih seorang siswa telah memiliki Hp dengan harga hingga Rp. 1,5 juta. Jika orang tua mereka terbilang mampu dan berpenghasilan cukup, maka barang dengan kualitas tinggi itu tentu akan mudah mereka dapatkan. Lalu bagaimana dengan remaja yang berasal dari kalangan tidak mampu?


Secara tidak langsung, kemajuan teknologi yang ada memacu pengeluaran remaja menjadi lebih besar. Untuk remaja usia sekolah, tentu saja pengeluaran ini akan beralih ke orang tua. Mulai dari kebutuhan primer siswa sampai kebutuhan tersier. Pada kenyataannya, kebutuhan tersier siswa lebih mendominasi dibanding kebutuhan primernya sebagai siswa. Kadang siswa malah lebih mementingkan pembelian pulsa dibandingkan dengan pembelian buku hingga ratusan ribu. Kebanyakan siswa menganggap komunikasi yang lancar itu lebih penting dibandingkan dengan membahas materi yang terdapat di buku pelajaran. Apalagi dengan fitur yang tersedia di dalam Hp, secara tak langsung telah mewajibkan mereka untuk mengisi pulsa jika ingin mengganti status di facebook atau twitter dalam koneksi internet.

Kebutuhan remaja yang membludak tentu menambah pengeluaran orang tua yang tidak sedikit. Harmoni menemukan, pengeluaran siswa yang berasal dari kalangan menengah mencapai lebih dari 300 ribu rupiah perbulan. Jika kondisi ini terus berlanjut dengan orang tua berpenghasilan sama, tidakkah menjadi beban tersendiri bagi orang tua yang mempunyai anak remaja? Kalau orang tua selalu memiliki kemampuan untuk mencukupi kebutuhan tinggi anaknya tentu tidak akan menimbulkan masalah apa-apa. Tapi bagaimana jika orang tua tidak mampu menuruti biaya-biaya yang timbul sementara anaknya sudah terbiasa bahkan kecanduan dengan gaya hidup berkelas?

Alarm tanda bahaya perilaku sosial remaja harus dibunyikan saat mereka tidak mampu lagi mengontrol gaya hidupnya. Perilaku-perilaku yang melanggar norma seperti tindak asusila potensial dilakukan remaja jika dukungan keuangan dari orang tua sudah mulai macet. Banyaknya kasus perdagangan perempuan yang korbannya rata-rata dari kalangan remaja kemungkinan besar juga berasal dari imbas gaya hidup tersebut. Agar bisa bertahan dan dianggap berkelas, menjual diri memang merupakan jalan pintas yang sangat gampang ditempuh.

Kemajuan teknologi penunjang gaya hidup yang terus berkembang dan zaman yang semakin maju, jika tidak dikendalikan akan menjadi pendorong prilaku negatif remaja. Jaman sekarang bisa dipastikan jika seorang remaja tidak mengetahui berbagai hal yang up to date akan dicap sebagai anak yang kurang pergaulan.

Kini orang tua mempunyai tugas yang amat berat untuk menjaga putra-putri mereka dari masalah teknologi. Selain itu, orang tua juga perlu lebih ekstra kerja keras untuk mewujudkan keinginan anak-anaknya yang makin hari makin membludak. Jika berhasil memberi pengertian kepada mereka terkait pengeluaran yang cukup mencengangkan ini, remaja tentu tidak akan menjadikan semua kebutuhan tersier tersebut menjadi kebutuhan primer.



poetry
Selengkapnya...

Minggu, 06 Desember 2009

POLITIK DAN HUKUM BELUM MENYENTUH PARA SISWA


Sampai saat ini, beberapa surat kabar masih sibuk membahas tentang hukum dan politik. Diantaranya masih kasus seputar KPK dan skandal Bank Century, serta tentang disharmoni lembaga-lembaga politik dan Badan Penegak Hukum. Membahas kasus Bibit-Chandra pun sampai saat ini juga belum menemui titik terang. Lalu, bagaimana semua itu dimata remaja terlebih siswa?

Remaja memang perlu melek politik. Remaja perlu belajar dan sekaligus memahami berbagai persoalan yang sedang dihadapi bangsa dan negerinya. Akan tetapi, pendidikan politik yang perlu diaplikasikan ke dalam lembaga pendidikan bukanlah dalam bentuk propaganda politik praktis yang akan mengarah pada proses pembusukan intelektual, melainkan pendidikan politik yang sehat dan mencerahkan.


Seperti dikatakan oleh salah seorang tokoh pendidikan Jembrana, I Gede Laut Mertajaya, M.Sc., bahwa sejauh ini para siswa di Indonesia memang belum mendapatkan pendidikan politik yang memadai. “Siswa belumlah mendapatkan pendidikan politik yang memadai. Kita bisa lihat bagaimana mereka bingung ketika bersinggungan dengan masalah politik. Padahal sesungguhnya politik itu memiliki makna yang sangat luas. Sikap politik tidaklah sebatas keterlibatan sesorang dalam politik praktis, seperti dalam pesta demokrasi ( Pemilu ). Bukankah ini sebuah contoh bahwa pemahaman politik di dalm masyarakat sangatlah rendah. Maka kita harus mengubah pandangan itu sedini mungkin, yang mulai dari kalangan siswa,” demikian Gede Laut dalam sebuah wawancara dengan media ini.

Para siswa perlu diajak untuk memahami persoalan-persoalan kebangsaan melalui proses pembelajaran yang dialogis dan interaktif. Pendidikan politik juga tidak perlu dijadikan sebagai materi pelajaran tersendiri. Berhasil menanamkan nilai-nilai kearifan politik ke dalam ranah pemikiran siswa sudah merupakan sukses tersendiri bagi sebuah lembaga pendidikan.

Melalui penanaman nilai kearifan politik semacam itu diharapkan kelak siswa mampu menjadi pemain-pemain politik yang cerdas dan elegan sehingga tidak mudah melakukan tindakan-tindakan konyol yang bisa merugikan bangsa dan negara.

Dalam konteks demikian, dibutuhkan penanaman nilai-nilai kearifan dan pengertian politik secara benar melalui dunia pendidikan. Dalam pandangan awam, hancurnya tatanan politik di negeri ini merupakan imbas dari minimnya dunia pendidikan politik kita dalam menyentuh nilai-nilai kearifan politik.

Selama menuntut ilmu di bangku pendidikan, para siswa didik (nyaris) tak pernah mendapatkan pendidikan politik secara benar. Siswa belajar politik secara langsung di tengah-tengah kehidupan masyarakat yang sudah sarat dengan pembohongan serta ketidakjelasan politik. Imbasnya sudah bisa ditebak. Ketika terjun ke dalam ranah politik praktis, mereka menjadi mengabaikan nilai-nilai kejujuran, kearifan, dan kesantunan.

Sudah saatnya dunia pendidikan kita mengakomodasi berbagai persoalan yang langsung bersentuhan dengan hajat hidup orang banyak. Jangan sampai, dunia pendidikan berdiri di puncak kepura-puraan yang akan mengasingkan anak-anak masa depan negeri ini dari berbagai persoalan riil yang dihadapi bangsa dan negaranya. Dengan kata lain, nilai-nilai kearifan dan kesantunan politik perlu segera diaplikasikan ke dalam dunia pendidikan yang disajikan secara integratif ke dalam berbagai mata pelajaran yang relevan agar siswa memahami dan mampu memposisikan dirinya dikehidupan perpolitikan.

poetry

Selengkapnya...

Kamis, 29 Oktober 2009

Pentingnya Kegiatan Ekstrakulikuler


Remaja adalah individu yang berada pada masa peralihan dari masa anak-anak menuju masa dewasa dan ditandai dengan perkembangan yang sangat cepat dari aspek fisik, psikis dan sosial. Remaja merupakan sifat transisi karena remaja belum memperoleh status dewasa dan tidak lagi memiliki status anak.

Dalam masa inilah, rawan muncul permasalahan-permasalahan yang dialami remaja dalam menjalani kehidupannya sebagai betuk pencarian jati diri. Tapi, bila dalam masa pencarian diri tersebut remaja tidak menemukan rem sebagai pengontrol aktivitasnya, maka pencarian jati diri tersebut akan berubah menjadi penyimpangan yang biasa kita sebut dengan kenakalan remaja.


Orang tua dan guru di sekolah memegang peranan yang penting dalam mengatasi berbagai macam problematika yang ada dalam individu yang sedang bertransisi itu. Dalam lingkup keluarga, orang tua harus menjadi pendamping peran utama (remaja) dalam menjalani kehidupan yang sedang dijalaninya. Namun, jika seorang remaja berada di dalam sekolah, maka guru akan menjadi peran pengganti orang tua.

Selain tempat menimba ilmu, sekolah juga dapat menjadi tempat remaja untuk melakukan hal-hal “nakal”. Apalagi jika mereka bertemu dengan teman-teman yang berfikiran nakal pula. Separuh kegiatan remaja, dilakukan di sekolah. Mulai dari belajar hingga bermain. Kegiatan-kegiatan pengembangan diri remaja juga bermula dari sekolah. Karena itu, sekolah untuk usia remaja (SMP dan SMA) memiliki program pengembangan diri rutin yang biasa disebut dengan ekstrakulikuler. Tujuan dari ekstrakulikuler adalah untuk menempatkan minat dan bakat siswa diluar mata pelajaran yang nantinya bisa ditekuni. Kegiatan ekstra diberikan ringan dan menyenagkan diluar hal-hal rumit yang diberikan di kelas dalam kegiatan belajar mengajar. Ini membuat remaja itu memiliki keterampilan dan sikap serta mampu berorganisasi. Dalam kegiatan ekstrakulikuler, remaja dapat menumpahkan seluruh kenakalannya dalam bentuk karya maupun prestasi. Jadi kenakalan remaja tak hanya menjadi hal uang mengerikan bagi orang tua.

Kenakalan remaja kini sudah dapat diarahkan menjadi kenakalan yang positif, melalui kegiatan ekstrakulikuler. Dalam menentukan ekstra apa yang akan mereka ambil saja, itu sudah membuat remaja berfikir apa yang akan mereka kerjakan pada ekstra tersebut. Remaja dapat berkaraya di dalamnya tanpa menghilangkan unsur kenakalan yang dimilikinya. Remaja bebas berekspresi dalam kegiatan bebas rumus tersebut. Karena remaja memiliki sifat ingin tahu dan gengsi yang tinggi, mereka cenderung ingin menjadi lebih hebat dari sebayanya. Sebaiknya hal tersebut diketahui guru pembimbing agar bakat mereka dapat tersalurkan melalui turnamen atau lomba.

Pembebasan siswa dalam kegiatan ekstra bukanlah berarti menyerahkan sepenuhnya pada siswa. Jika hal tersebut terjadi, bisa menyebabkan ketidakberesan pikiran remaja yang menyebabkan penyimpangan. Maka guru mempunyai peran yang penting untuk menghalangi penyimpangan yang menjadikan remaja terlibat dalam kenakalan negatif yang tak berkesudahan.

Sebenarnya, remaja juga mempunyai hal positif dalam pengembangan dirinya. Kini tinggal bagaimana orang tua, guru dan sekolah mengarahkan anak-anak tanggung tersebut menjadi individu yang berhasil dan sukses.

poetry
Selengkapnya...

Jumat, 09 Oktober 2009

DIDUGA ‘BOCOR’ ANJING BANYAK SEMBUNYI


Cerita tentang indera penciuman anjing yang katanya melebihi mahkluk lainnya terbukti. Setidaknya hal tersebut tergambar saat Tim Penanggulangan Penyakit Rabies Kabupaten Jembrana bersama Tim Provinsi Bali melanjutkan operasi eliminasi (pemusnahan anjing yang tak memakai tanda pengenal) di wilayah Desa Yehembang Kecamatan Mendoyo, Jumat (2/10) kemarin. Mungkin lantaran anjing-anjing di Yehembang sudah mencium ‘bau’ tewasnya anjing-anjing di Pekutatan, kawanan anjing yang biasanya rame berkeliaran di jalan-jalan dan pasar, terlihat sepi saat Tim sudah tiba di lokasi sasaran, terlebih cuaca buruk dan hujan gerimis yang terjadi di seputaran Desa Yehembang dan sekitarnya menjadi salah satu penyebab anjing-anjing tersebut enggan keluar. Nampaknya mereka memilih sembunyi dan mencari tempat yang lebih hangat, sehingga tidak terpantau petugas yang siap me-nulup (nyumpit:red) dengan senjata tulup dan peluru beracun.

Meski anjing terlihat jarang dan tidak sebanyak di Pekutatan, pe-nulup jitu yang khusus didatangkan dari Provinsi Bali tersebut, tidak menyerah. Keenam orang pe-nulup tersebut, kemudian mengubah strategi dengan membagi diri. Ada yang bergerak menuju pasar, ada pula yang bergerak menyusuri jalan dan gang-gang yang ada di desa Yehembang. Bahkan perburuan anjing-anjing liar yang rawan rabies tersebut sampai ke pinggiran pantai Rambutsiwi - Yehembang.

Walhasil perburuan Tim Penulup tersebut tidak sia-sia, belasan anjing yang sembunyi di gubuk dan dibawah bale-bale maupun di rumah-rumah penduduk, atas seijin dan bantuan warga setempat, berhasil ditulup hingga tewas. Informasi aparat desa, banjar dan warga Desa Yehembang terhadap lokasi-lokasi persembunyian maupun tempat-tempat begerombolnya anjing-anjing liar sangat membantu petugas dalam melakukan eksekusinya.

Dalam eksekusi tersebut, banyak anjing gagal di-tulup, lantaran cepat kabur dan tembakannya meleset. Namun penulup – penulup tersebut tidak menyerah dan mengejar anjing-anjing tersebut hingga ke tempat persembunyiannya.

Disisi lain, menurut salah seorang Staf Dinas PKL Kabupaten Jembrana IGN Okabudhi, anjing-anjing yang sudah di vaksinasi hingga dua tahap akan diberikan tanda khusus berupa Peneng. “ Anjing-anjing yang sudah berisi peneng berarti aman dari rabies “ ujar Okabudhi. Ia menambahkan, gerakan eliminasi terhadap anjing-anjing liar akan terus berlanjut hingga seluruh wilayah.

pemkab jembrana
Selengkapnya...

Rabu, 07 Oktober 2009

ANJING LIAR DIMUSNAHKAN


Rupanya, wabah rabies yang hingga saat ini mewabah di Tabanan membuat Jembrana cemas. Tindakan tegas dengan melakukan eliminasi (pemusnahan,red) terhadap anjing-anjing liar tak bertuan akhirnya ditempuh. Ratusan anjing liar yang berkeliaran di gang-gang sempit dan pusat-pusat keramaian berhasil dimusnahkan.

Kecamatan Pekutatan mendapatkan giliran pertama kegiatan eliminasi anjing-anjing liar lantaran merupakan daerah tersebut berbatasan langsung dengan Kabupaten Tabanan yang hingga kini masih terjangkit wabah rabies. Di kecamatan ujung timur Jembrana ini, pemusnahan anjing-anjing liar diawali dengan menyasar sejumlah anjing liar yang sering berkeliaran di sekitar Kantor Camat Pekutatan. Dengan mengerahkan enam tukang tulup, belasan anjing liar berhasil dilumpuhkan dalam waktu yang tidak terlalu lama. Pasalnya, ketika seekor anjing terkena “peluru” sumpit dalam tersebut, dalam hitungan menit anjing tersebut sudah kehilangan nyawanya lantaran racun Strichnine yang disuntikkan oleh “peluru” sumpit tersebut ke dalam tubuh anjing. “Racun ini langsung menyerang jantung, sehingga dalam hitungan menit anjing itu tewas,” ujar salah seorang petugas. Menurutnya, ketika terkena tembakan, anjing tersebut memang masih bisa lari namun semakin aktif anjing tersebut, semakin cepat ajal menjemputnya. “Saat kena memang masih bisa lari, lalu dia akan menderita tremor habis itu akan langsung tumbang,” tandasnya. Setelah berhasil memusnahkan belasan anjing di sekitar Kantor Camat Pekutatan, tim bergerak menuju Pasar Pekutatan. Saat tim tiba, pasar terbesar di Kecamatan Pekutatan sontak berubah. Seluruh penghuni pasar menyambut gembira eliminasi anjing liar tersebut dengan menunjukkan anjing-anjing liar yang biasanya nongkrong di pasar tersebut. Puluhan anjing liar berhasil dimusnahkan yang bangkainya diangkut oleh mobil pengangkut sampah untuk ditanam di Tempat Penampungan Akhir (TPA) sampah di Banjar Peh, Kaliakah, Negara. Tidak itu saja, penduduk di seputar pasarpun ikut membantu dengan menunjukkan lokasi berkeliarannya anjing-anjing liar. Pada sebuah gang sempit di Banjar Pasar, Pekutatan, tim kembali berhasil memusnahkan belasan anjing-anjing liar tak bertuan. Setelah memusnahkan anjing-anjing liar di Pasar Pekutatan, tim bergerak menuju Desa Pengeragoan. Desa paling timur Jembrana ini dianggap rawan rabies lantaran berbatasan langsung dengan Kabupaten Tabanan. Di lapangan Desa Pengeragoan yang berbatasan langsung dengan pantai, tim kembali memburu anjing-anjing liar tanpa pemilik. Perburuan yang hingga menyusuri pantai ini menghasilkan belasan ekor anjing tak bertuan. Kendati telah berhasil memusnahkan puluhan ekor anjing liar, ternyata tidak membuat tim puas. Perburuan kembali dilanjutkan dengan menyusuri Banjar Dauh Tukad, Pengeragoan. Di tempat tersebut, sejumlah penduduk sudah menunggu dan meminta agar anjing-anjing liar di wilayahnya itu dimusnahkan. Permintaan warga itu, langsung ditanggapi tim dengan menurunkan enam tukang sumpit. Hasilnya, belasan ekor anjing liar berhasil dimusnahkan. Di banjar ini, selain melakukan eliminasi, tim juga melakukan vaksinasi massal terhadap puluhan anjing milik warga di banjar tersebut.

Kepala Dinas Pertanian, Kehutanan dan Kelautan (PKL), I GN Sandjaja di sela-sela acara eliminasi anjing liar ini mengatakan Pemkab Jembrana berupaya untuk mengantisipasi sedini mungkin wabah penyakit rabies yang telah terjadi di Tabanan, Denpasar dan Badung. “Salah satunya dengan melakukan eliminasi terhadap anjing-anjing liar tanpa pemilik di seluruh Jembrana,” katanya. Sandjaja menambahkan pihaknya akan mengirimkan sampel anjing ke Balai Besar Veteriner (BB-Vet) Denpasar untuk memastikan apakah Jembrana bebas rabies atau tidak. “Nanti kita ambil sampel kepala anjing dari Pengeragoan dan Gilimanuk untuk diambil otaknya,” tandasnya. Terkait dengan kasus gigitan anjing, Sandjaja mengakui ada sejumlah kasus gigitan anjing namun tidak menunjukkan tanda-tanda rabies. “Setelah kami observasi ternyata kasus gigitan anjing itu tidak menunjukkan gejala-gejala rabies,” katanya. pemkab jembrana
Selengkapnya...

Minggu, 04 Oktober 2009

GERBANG BARAT SIAGA RABIES


Kendati dinyatakan bebas rabies, merebaknya wabah penyakit rabies di Tabanan, membuat Jembrana khawatir. Sebagai tetangga terdekat Tabanan, Jembrana rupanya tidak mau ambil resiko dengan penyakit mematikan tersebut. Berbagai upaya antisipasi telah dilakukan, mulai dari pembentukan Tim Koordinasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Rabies (Tikor) maupun melakukan vaksinasi massal terhadap sejumlah anjing-anjing milik warga secara gratis.

Senin (28/9), puluhan ekor anjing di Lingkungan Kebon, Baler Bale Agung, Negara mendapat vaksinasi rabies gratis. Kasi Kesehatan Hewan Dinas Perkutut, I Nyoman Sueastika mengatakan vaksinasi ini bertujuan meningkatkan kekebalan tubuh hewan penular rabies (HPR). “Dalam setahun, akan kita lakukan vaksinasi sebanyak dua tahap,” katanya. Pasalnya, pada vaksinasi pertama belum membuat HPR kebal terhadap penyakit mematikan yang ditemukan pada 23 tahun silam ini. “Tiga bulan kemudian kita suntik lagi. Setelah itu, HPR tersebut baru dinyatakan kebal rabies selama setahun ke depan,” terangnya. Menurut Sueastika, propinsi Bali telah dinyatakan termasuk dari 23 propinsi di Indonesia yang divonis sebagai daerah endemis rabies. “Sejak tahun lalu, Bali dinyatakan daerah endemis rabies,” terangnya. Saat dikonfirmasi di penghujung acara, Kabid Peternakan Dinas Perkutut Jembrana, I Nyoman Swastika mengungkapkan penyakit rabies sangat mematikan yang disebabkan oleh gigitan HPR yang telah terjangkit rabies maupun ada luka yang terkenai liur dari HPR tersebut. “Kalau warga tergigit HPR, pertolongan pertamanya adalah dengan mencuci luka tersebut dengan sabun pada air yang mengalir. Setelah itu langsung bawa ke puskesmas atau rumah sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan lanjutan,” katanya. Menurut Swastika, selain telah membentuk Tikor, pihaknya telah melakukan serangkaian sosialisasi tentang bahaya penyakit rabies, pendataan jumlah populasi anjing di setiap desa serta melakukan eliminasi terhadap HPR yang dicurigai mengidap rabies. “Kalau ada HPR yang kita curigai mengidap rabies, kita langsung lakukanh eliminasi dengan menyuntikkan cairan Strichnine,” ungkapnya. Suastika juga menghimbau agar warga yang tergigit HPR untuk segera melaporkan ke petugas dari Dinas Perkutut dan segera mengkandangkan HPR yang dicurigai mengidap rabies. “HPR yang menggigit jangan dibunuh dulu tapi dikandangkan untuk kepentingan observasi,” harapnya.

I Nyoman Suadia (60), salah seorang warga Baler Bale Agung, ketika ditemui saat berlangsungnya vaksinasi gratis tersebut mengaku sangat berkepentingan dengan adanya kegiatan vaksinasi gratis ini. “Sebagai seorang penghobi anjing, tentunya saya sangat ingin binatang peliharaan saya terbebas dari penyakit rabies,” ujar kakek pemilik dua ekor Labrador dan seekor Herder ini. Suadia juga mengaku siap anjing kesayangannya itu dimusnahkan jika nantinya memang benar-benar terjangkit virus rabies. “Saya siap memusnahkan anjing saya kalau memang anjing-anjing saya bener terkena virus rabies,” ujar Suadia. Sementara itu, Gusti Ayu Suarni, salah seorang warga lainnya mengaku khawatir kalau wabah rabies di Tabanan akan menjalar hingga ke Jembrana sehingga dirinya segera membawa anjing pudel kesayangannya untuk divaksin rabies. “Biar tidak keburu terjangkit penyakit makanya saya segera menyuntik anjing saya. Mumpung gratis,” ujarnya sambil tersenyum.

pemkab jembrana

Selengkapnya...